ARTIKEL SEJARAH

Disusun
oleh:
Pratiwi Apriniya
XI IPS 2
22
SMA NEGERI 1 GODEAN SLEMAN
YOGYAKARTA
Jl.
Sidokarto No.5 Godean Sleman
Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Indonesia
1.
Kerajaan Majapahit
a) Berdirinya Kerajaan Majapahit
Singasari jatuh ke
tangan Jayakatwang, Raden Wijaya (menantu Kertanegara) lari ke Madura. Namun,
tentara Kublai Khan menyerang Singasari, Raden WEijaya berpura-berpura membantu
menyerang Jayakatwang tetapi setelah Jayakatwang terbunuh Raden Wijaya berbalik
menyerang Mongol dan Raden Wijaya berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit dan
menobatkan dirinya dengan gelar Sri Kertarajasa Jaya wardhana.
b) Perkembangan Politik Kerajaan Majapahit
1) Pemerintahan
Kertarajasa
Untuk
meredam kemungkinan terjadi pemberontakan, Raden Wijaya melakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
·
Mengawini empat putrid Kertanegara untuk
menghindari perebutan kekuasaan anatar anggota keluarga raja.
·
Memberikan kedudukan dan hadiah yang
pantas kepada para pendukungnya.
Kepemimpinan
Kertarajasa yang cukup bijaksana menyebabkan kerajaan menjadi aman dan
tenteram. Ia wafat pada tahun 1309 dan dimakamkan di Simping (Blitar) sebagai
Syiwa dan di Antahpura (dalam kota Majapahit) sebagai Buddha.
2) Pemerintahan
Jayanegara
Jayanegara
(1309-1328) adalah raja Majapahit kedua yang naik takhta
kerajaan menggantikan Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pada
tahun 1309 dan memerintah sampai tahun 1328. Masa pemerintahan Jayanegara
dipenuhi pemberontakan akibat kepemimpinannya kurang berwibawa dan kurang
bijaksana. Pemberontakan-pemberontakan itu sebagai berikut.
·
Pemberontakan Ranggalawe pada tahun
1231. Pemberontakan ini dapat dipadamkan pada tahun 1309.
·
Pemberontakan Lembu Sora pada tahun
1311.
·
Pemberontakan Juru Demung (1313) disusul
Pemberontakan Gajah Biru.
·
Pemberontakan Nambi pada tahun 1319.
Nambi adalah Rakryan Patih Majapahit sendiri.
·
Pemberontakan Kuti pada tahun 1319.
Pemberontakan ini adalah yang paling besar dan berbahaya. Kuti berhasil
menduduki ibu kota kerajaan sehingga Jayanegara terpaksa melarikan diri ke
daerah Bedander.
Namun,
meskipun berbagai pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Jayanegara justru
meninggal akibat dibunuh oleh salah seorang tabibnya yang bernama Tanca. Ia
lalu dimakamkan di candi Singgapura di Kapopongan.
3) Pemerintahan
Tribhunawatunggadewi
Oleh
karena Jayanegara tidak berputra, sementara Gayatri sebagai Rajapatni telah
menjadi biksuni, takhta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada
Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana (1328-1350) yang menjalankan
pemerintahan dibantu suaminya, Kertawardhana. Masa pemerintahan
Tribhuwanatunggadewi diwarnai permasalahan dalam negeri, yakni meletusnya
Pemberontakan Sadeng. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada yang
pada saat itu baru saja diangkat menjadi Patih Daha.
4) Pemerintahan
Hayam Wuruk
Tribhuwanatunggadewi terpaksa turun
takhta pada tahun 1350 sebab Rajapatni Dyah Dewi Gayatri wafat. Penggantinya
adalah putranya yang bernama Hayam Wuruk yang lahir pada tahun 1334.
Gajah Mada diangkat
menjadi mahapatih di Majapahit pada tahun 1331 dan diadakan upacara
pelantikan. Dalam upacara pelantikan tersebut, Gajah Mada mengucapkan
sumpahnya yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa, berisi tekadnya untuk
mempersatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit. Usaha Gajah Mada untuk
mewujudkan gagasan Nusantara banyak mendapat kesulitan. Di
antaranya adalah Peristiwa Bubat yang memaksanya menggunakan jalan
kekerasan untuk menyelesaikannya.
Dalam kitab Negarakertagama
disebutkan bahwa pada zaman Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mengalami masa
kejayaan dan memiliki wilayah yang sangat luas. Luas kekuasaan Majapahit pada
saat itu hampir sama dengan luas negara Republik Indonesia sekarang.
Kondisi Majapahit berada di ambang
kehancuran ketika Hayam Wuruk juga wafat pada tahun 1389. Sepeninggalnya,
Majapahit sering dilanda perang saudara dan satu per satu daerah kekuasaan
Majapahit pun melepaskan diri.
c) Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit
Sebelum menduduki jabatan raja, putra mahkota biasanya diberi
kekuasaan sebagai raja muda (Rajakumara atau Yuwaraja). Untuk masalah-masalah
keagamaan, raja dibantu oleh dewan yang disebut Dharmadyaksa.
Para pejabat keagamaan ini dibantu oleh tujuh Dharma Upapati,
yaitu Sang Panget i Tirwan, i Kandamulri, i Mangkuri, i Paratan, i Jambi,
i Kandangan Rase, dan i Kandangan Atuha. Selain sebagai pejabat keagamaan,
mereka juga merupakan kelompok cendekiawan.
Tiga lembaga pemerintahan tingkat atas
di Majapahit sebagai berikut.
·
Sapta Prabu, merupakan sebuah dewan
kerajaan. Anggota dewan ini adalah keluarga raja yang bertugas mengurusi soal
keluarga raja, penggantian mahkota, dan urusan-urusan negara yang berhubungan
dengan kebijaksanaan negara.
·
Dewan Menteri Besar, menerima perintah
raja. Anggotanya berjumlah lima orang dan dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada.
Dewan ini bertugas mengepalai urusan tata negara merangkap urusan angkatan
perang dan kebijaksanaan.
·
Dewan Menteri Kecil, melanjutkan
perintah raja. Beranggotakan tiga orang dan bertugas sebagai pelaksana
kebijaksanaan raja.
d) Kehidupan kebudayaan Kerajaan Majapahit
Zaman Majapahit
menghasilkan banyak karya sastra. Periodisasi sastra masa Majapahit dibedakan
menjadi dua, yaitu sastra zaman Majapahit awal dan sastra zaman Majapahit
akhir.
Karya
sastra zaman Majapahit akhir ditulis dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang
(kidung) dan gancaran (prosa). Karya-karya sastra pada zaman ini adalahkitab
Pararaton yang berisi tentang riwayat raja-raja Majapahit, kitab
Sundayanaberisi tentang Peristiwa Bubat, kitab Surandaka menceritakan
tentang Pemberontakan Sora di Lumajang, kitab Ranggalawe tentang
Pemberontaan Ranggalawe dari Tuban, kitab Panji Wijayakrama berisi
tentang riwayat Raden Wijaya, kitab Vsana Jawa menceritakan tentang
penaklukkan Bali oleh Gajah Mada,kitab Usana Bali mengisahkan tentang kekacauan
Bali akibat keganasan Maya Danawa, kitab Pamancangah, kitab
Panggelaran, kitab Calon Arang, dan kitab Korawasrama.

2.
Kerajaan Medang Kamulan
a) Berdirinya
Kerajaan Medang Kamulan
Pada umumnya sebutan Mataram Kuno lazim
dipakai untuk menyebut nama Kerajaan ini pada periode Jawa Tengah. Nama Mataram
merujuk pada nama ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan
Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16.
b) Perkembangan
Politik Kerajaan Medang Kamulan
o Sanjaya, pendiri Kerajaan
Medang (Karya Candi Canggal / Penganut Hindu Syiwa)
o Rakai Panangkaran, awal
berkuasanya Wangsa Sailendra(Membangun Candi Borobudur,sebagai penganut budha
mahaya" dinasti berpindah agama dari leluhurnya yang hindu
syiwa")membangun juga candi Kalasan , sebagai pengormatan leluhur").
o Rakai Panunggalan alias
Dharanindra Menaklukkan Sriwijaya bahkan sampai ke kamboja dan campa berjuluk
Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
o Rakai Warak alias
Samaragrawira Ayah dari Balaputradewa raja Sriwijaya Wirawairimathana (penumpas
musuh perwira)
o Rakai Garung alias
Samaratungga Sri Maharaja Samarottungga,
o Rakai Pikatan suami
Pramodawardhani,
o Rakai Kayuwangi alias Dyah
Lokapala
c)
Keadaan Masyarakat Medang Kamulan
Di
bidang ekonomi penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode
Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memangterkenal
sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya
merupakan negara maritim.
Dibeberapa
prasasti telah memberi keterangan akan adanya masyarakat yang mengenel ekonomi
di wilayah kerajaan,di pedesaan pertama-tama sudah mengenal hasil bumi seperti
beras, buah-buahan, sirih pinah, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah
tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian, paying keeranjang
dan barang-barang anyaman , kejang kepis, gula, arang, dan kapur sirih.
Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing , itik dan ayam serta telurnya
juga diperjualbelikan.
Prasasti
tidak menyebutkan komoditas ekspor, dan hanya ada satu barang yang mungkin
diimpor yaitu kain buatan India (wdihan buat kling). Akan tetapi, data tentang
masalah ekspor-impor itu diperoleh darr berita-berita Cina. Ekspor dari
pelabuhan –pelabuhan di Jawa terdiri atas hasil bumi dan hutan Pulau Jawa
sendiri dan dari Pulau-pulau yang lain, terutama dari Kaliimantan dan
Indonesian bagian timur. Komoditas ekspor itu anatara lain garam yang di
hasilkan dipantai utara PUlau Jawa, terutama didaerah Kembang dan Tuban , kain
Katun dan Kapuk, Sutra tipis dan Sutra kuning, damas, kain brokat
berwarna-warni, kulit penyu, pinang, pisang raja, gula tebu, kemukus, cula
badak, mutiara, belerang, gaharu, kayu sepang, kayu cendana.,cengkeh, pala,
marica, dammar, kapur barus dan lain-lainnya.

3.
Kerajaan Samudera Pasai
a) Berdirinya
Kerajaan Samudra Pasai
Samudra
pasai sendiri didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh. Sulatan Malik as-Saleh
sendiri mendirikan kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13, dan menjadi raja
pertama kerajaan Samudra Pasai, dan wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, pada
pemerintahannya masih belum terlihat tanda-tanda kejayaan yang signifikan,
namun pada pemerintahannya setidaknya kerajaan Samudra pasai merupakan kerajaan
yang besar dari wilayah Aceh sendiri.
b)
Sistem Pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai
1. Sultan Malik as-Saleh atau
Meurah Silu (1270-1297 M)
2. Sultan Muhammad Malik
az-Zahir (1297-1326 M)
3. Sultan Mahmud Malik
az-Zahir (lk1346-1383 M)
4. Sultan Zain al- Abidin
Malik az-Zahir (1383-1405 M)
5. Sultanah Narisyah
(1405-1412 M)
6. Abu Zaid Malik az- Zahir
(1412-? M)
7. Mahmud Malik az-Zahir(
1513-1524 M)
c) Keadaan Masyakat
Keadaan masyarakat Pasai jelas
sekali, menggantungkan kehidupan lewat pelyaran dan perdagangan. Karena sebagai
kerajaan aritime
memungkinkan masyarakat pasai menjadi salah satu pelaku dalam perdagangan dan
pelayaran. Terlebih lagi Samudra Pasai mempunyai Bandar-bandar yang bisa
menjadi tempat singgah untuk ppara pedagang asing. Dan pajak yang dikenakan
oleh pemerintah Samudra Pasai kepada para pedagang sesuai dengan apa yang
dijuanya. Memungkinkan masyarakat mampu untuk bertahan.

4.
Kerajaan Singasari
a) Berdirinya
Kerajaan Singasari
Ken
Arok merupakan Anak dari Empu Endok dan Brahma. Suatu hari, Ken Arok tertarik
pada Ken Dedes dan bersumpah akan merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul
Ametung. Ken Arok lalu membunuh Tunggul Ametung dan memfitnah Kebo Ijo. Berkat
berbagai intrik dan fitnah lainnya, Ken Arok berhasil menjadi awuku di Tumapel
dan mengawini Ken Dedes. Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari dan berkuasa
selama lebih kurang lima tahun, yaitu dari tahun 1222 sampai tahun 1227. Ken
Arok tewas dibunuh seorang pengalasan pada tahun 1227 atas perintah Anusapati.
Pembunuhan Ken Arok oleh Anusapati menimbulkan dendam putra Ken Arok dan Ken
Umang, yaitu Tohjoyo. Tohjoyo naik takhta menjadi Raja Singasari, namun hanya
untuk beberapa bulan. Sebabnya adalah Ranggawuni, putra Anusapati, menyerang
Keraton Singasari dibantu para pengikutnya untuk membalas kematian ayahnya.
Ranggawuni naik takhta menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Jaya
Wisnuwardhana dan memerintah dari tahun 1248-1268. Pada tahun 1254,
Wisnuwardhana mengangkat anaknya yang bernama Kertanegara menjadi raja muda
(Yuwaraja).
b) Sistem
Pemerintahan Kerajaan Singasari
·
Tunggul Ametung
·
Ken Arok
·
Anusapati
·
Tohjoyo
·
Wisnuwardhana
c) Keadaan
Masyarakat
Di Singasari telah berkembang pusat agama Buddha aliran
Tantrayana. Hal ini terbukti dalam prasasti yang dituliskan pada lapik (alas)
"Jaka Dolok" yang ada di Taman Simpang Surabaya. Lapik tersebut
menyebutkan bahwa Kertanegara telah dinobatkan sebagai Jiwa atau Dhyani Buddha
(Aksobhya). Masa pemerintahan Kertanegara berakhir ketika Kertanegara dibunuh
oleh Jayakatwang, raja dari Kediri.

5.
Kerajaan Tarumanegara
a) Letak
Kerajaan Tarumanegara
Berdasarkan catatan dalam
berbagai prasasti, Kerajaan Tarumanegara berdiri di Jawa Barat pada akhir abad
ke-5. Wilayah Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, tepatnya dari
sekitar Banten, Jakarta sampai Cirebon.
b) Sumber
Sejarah
·
Berita asing
·
Berita dari Prasasti
ü Prasasti
Ciaruteun (Ciampea, Bogor)
ü Prasasti
Pasir Kaleangkak
ü Prasasti
Kebon Kopi
ü Prasasti
Tugu
ü Prasasti
Pasir Awi
ü Prasasti
Muara Cianten
ü Prasasti
Cidangiang (Lebak)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar