Kamis, 21 November 2013

Artikel Tentang Pengangguran



Artikel Tentang Pengangguran
A.    Keadaan Penganggur dan Setengah Pengangguran
Pengangguran terjadi di sebabkan antara lain, yaitu karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja.Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja.Selain itu juga kurang efektifnya pasar kerja bagi para pencari kerja.
Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja, yang disebabkan antara lain : perusahaan yang menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif ; peraturan yang menghambat inventasi ; hambatan dalam proses ekspor impor, dll.Menurut data BPS angka pengangguran pada tahun 2002, sebesar 9,13 juta penganggur  terbuka , sekitar 450 ribu diantaranya adalah yang berpendidikan tinggi .Bila dilihat dari usia penganggur sebagian besar  (5.78 juta) adalah usia muda (15 – 24 tahun).Selain itu terdapat sebanyak 2.7 juta penganggur merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (hopeless).Situasi seperti ini akan sangat berbahaya dan mengancam stabilitas nasional.
Masalah lainnya adalah jumlah setengah penganggur yaitu yang bekerja kurang dari jam kerja normal 35 jam per minggu, pada tahun 2002 berjumlah 28.87 juta orang.Sebagian dari mereka ini adalah yang bekerja pada jabatan yang lebih rendah dari tingkat pendidikan, upah rendah, yang mengakibatkan produktivitas rendah.Dengan demikian masalah pengagguran terbuka dan setengah penganggur berjumlah 38 juta yang harus segera di tuntaskan.
B.     Keadaan Angkatan Kerja dan Keadaan Kesempatan Kerja
Masalah pengangguran dan setengah pengangguran tersebut di atas salah satunya di pengaruhi oleh besarnya angkatan kerja.Angkatan kerja di Indonesia pada tahun 2002 sebesar 100,8 juta orang.Mereka ini di dominasi oleh angkatan kerja usia sekolah (15 – 24 tahun) sebanyak 20,7 juta.Pada sisi lain 45,33 juta orang hanya berpendidikan SD kebawah, ini berarti bahwa angkatan kerja di Indonesia kualitasnya masih rendah.
Keadaan lain yang juga mempengaruhi pengangguran dan setengah pengangguran tersebut adalah keadaan kesempatan kerja.Pada tahun 2002, jumlah orang yang bekerja adalah sebesar  91,6 juta orang.Sekitar 44,33 persen kesempatan kerja ini berada di sektor pertanian, yang hingga saat ini tingkat produktivitasnya masih tergolong rendah.Selanjutnya 63,79 juta dari kesempatan kerja yang tersedia tersebut berstatus informal.
Ciri lain dari kesempatan kerja Indonesia adalah dominannya lulusan pendidikan SLTP ke bawah.Ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja yng tersedia bagi golongan berpendidikan rendah.Seluruh gambaran di atas menunjukkan bahwa kesempatan kerja di Indonesia mempunyai persyaratan kerja yang rendah dan memberikan imbalan yang kurang layak.Implikasinya adalah produktivitas tenaga kerja rendah.

SASARAN
 Sasaran yang di harapkan, di rumuskan sebagai berikut :
1.    Menurunnya jumlah penganggur tebuka dari 0,96 persen menjadi 5,5 persen pada tahun 2009.
2.    Menurunnya jumlah setengah penganggur dari 28,65 persen menjadi 20 persen dari jumlah yang bekerja pada tahun 2009.
3.    Meningkatnya jumlah tenaga kerja formal dari 36,71 persen menjadi 60 persen dari jumlah yang bekerja pada tahun 2009.
4.    Menurunnya jumlah angkatan kerja usia sekolah dari 20,54 persen menjadi 15 persen pada tahun 2009.
Tingkatan perluasan lapangan kerja dari 91,65 juta orang menjadi 108,97 juta orang.Terbangunnya jejaring antara pusat dengan seluruh kabupaten/kota.Untuk mencapai hal tersebut disusun strategi, kebijakan dan program – program yang perlu terus dibahas untuk menjadi kesepakatan semua pihak meliputi Pengendalian Jumlah Angkatan Kerja;Peningkatan Kualitas Angkatan Kerja;PeningkatanEfektivitas Informasi Pasar Kerja dan Bursa Kerja;Pembinaan Hubungan Industrial.

C.    Pengangguran Tenaga Kerja Terdidik
Selain masalah upah, pesoalan mendasar ketenagakerjaan di Indonesia saat ini menyangkut tingkat pengangguran.Ini disebabkan pertambahan angkatan kerja baru jauh lebih besar di banding pertumbuhan lapangan kerja produktif yang dapat di ciptakan setiap tahun.Pasca krisis moneter, gap tersebut semakin membengkak tajam.Pada tahun 1998 tingkat pengangguran mencapai 5,7 persen.Angka ini sebenarnya masih di sekitar  tingkat pengangguran natural (Natural Rate Of Unemployment), suatu tingkat secara alamiah mustahil dihindarkan.Ini mencakup pengangguran yng muncul karena peralihan antar kerja oleh tenaga kerja.Dengan jumlah angkatan kerja 92,7 juta orang pengangguran.
Sebenarnya tingkat pengangguran ini relatif kecil dibanding tingkat pengangguran di beberapa Negara industri maju di Eropa di tahun 90-an yang bahkan mencapai dua digit.Namun tingkat pengangguran 5,7 persen tersebut sebenarnya adalah angka pengangguran terbuka (Open Unemployment), yakni penduduk angkatan kerja yang benar-benar menganggur.Diluar pengertian tersebut, terdapat sejumlah besar penganggur yang dalam konsep ekonomi termasuk dalam kualifikasi pengangguran terselubung (Disquised Unemployment), yakni tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak memperoleh pekerjaaan yang sesuai dengan bidangnya disebabkan lemahnya permintaan tenaga kerja.Konsep lainnya adalah under employment, yakni tenaga kerja yang jumlah jam kerjanya tidak optimal karena ketiadaan kesempatan untuk bekerja.
Bedasarkan data BPS (Biro Pusat Statistik) sampai Mei 1997,sekitar 45 persen tenaga kerja bekerja di bawah 35 jam per minggu atau setara dengan 25 persen pengangguran penuh.Jika di tambah angka pengangguran terbuka 2,67 persen dan pengaruh krisis ekonomi yang berkepanjangan,total pengangguran nyata bias mencapai 35-40 persen.Suatu tingkat yang sangat serius dan membahayakan dalam pembangunan nasional.Di samping masalah tingginya angka pengangguran, yang termasuk juga rawan adalah pengangguran tenaga terdidik yaitu, angkatan kerja berpendidikan menengah ke atas dan tidak bekerja.Fenomena ini patut di antisipasi sebab cakupannya berdimensi luas, khususnya dalam kaitannya dengan strategi serta kebijakan perekonomian dan pendidikan nasional.
 Pola pengangguran
Dari tabel di bawah mengungkapkan beberapa hal menarik.Pertama, pada tahun 1998 hampir separuh (49 persen) penganggur  ternyata berpendidikan menengah atas (SMTA Umum dan Kejuruan). Kedua, periode tahun 1982-1998, terjadi peningkatan pengangguran berpendidikan menengah ke atas (SMTA,Akademi, dan Sarjana) secara signifikan dari 26 persen menjadi 57 persen, atau meningkat hamper 12 persen.Ketiga, laju peningkatan pengangguran di sekolah Menengah Kejuruan lebih rendah daripada Sekolh Menengah Umum, baik pada menrgah pertama maupun pada menengah atas.Keempat, persentase peningkatan tingkat pengangguran berpendidikan sarjana adalah paling tinggi,yang menjolak dari 0,57 persen pada 1982  menjadi 5,02 persen pada tahun 1998.
 Beberapa sebab :
  1. Secara kualitatif, kualitas tenaga kerja nasional meningkat disebabkan dua hal. Pertama,pembangunan ekonomi pada tingkat tertentu berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat lebih mampu membiayai pendidikan formal dan mengakomodasi makanan bergizi yang membantu kualitas tenaga kerja.Kedua, berbagai kebijakan di bidang pendidikan nasional membawa peningkatanpada kualitas pendidikan formal angkatan kerja.Akan tetapi, pada saat angkatan kerja terdidik meningkat dengan pesat, lapangan kerja masih di dominasi sektor-sektor subsistensi yang tidak membutuhkan tenaga kerja berpendidikan.Ini enimbulkan gejala supply induce di mana tenagaa kerja terdidikyang jumlahnya cukup besar member tekanan kuat terhadap kesempatan kerja di sektor formal yang jumlahnya relative kecil, sehingga terjadi pendayagunaaan tenaga kerja terdidik yang tidak optimal.
  2. Secara makro ini juga di sebabkan transformasi ekonomi dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder dan tersier (industry dan jasa) tidak di ikuti transformasi penyerapan tenaga kerja.Periode tahun 1980-1998, penyerapan tenaga kerja sektor primerbturun 9 persen menjadi  47 persen, sementara sektor sekunder dan tersier hanya meningkat 3 persen dari 23 persen.Di lain pihak konstribusi sektor primer terhadap PDB turun sebesar 9 persen menjadi 15 persen sementara sektor sekunder dan tersier meningkat sekitar 14 persen menjadi 27 persen.
Tampaknya gejala tersebut di akibatkan pola perkembangan industry saat ini yang kurang berbasispada permasalahan nasional yang sifatnya seolah labor surplus padahal karena permintaanyang kecil.Dengan demikian, di samping membangun industry skala besar yang sifatnya padat modal dan teknologi , perhatian juga sudah seharusnya di berikan pada pengembangan industry yang lebih berorientasi pada penyerapan tenaga kerja terdidik yang tidak hanya jumlahnya besar tatapi juga tumbuh dengan sangat cepat.
Perlu juga penanganan serius terhadap tigginya persentase lulusan SMTA Umum yng menganggur (lebih tinggi daripada SMTA Kejuruan).Hal ini karena pada dasarnya SMTA Umum di persiapkan untuk memasuki perguruan tinggi, padahal untuk masuk ke dunia perguruan tinggi, selain tempat terbatas, mahalnya biaya juga mejadi kendala utama.
Berbagai perubaan menyangkut penjurusan di tingkat menengah atas tampaknya tidak akan mampu menjawab permasalahan kualitas angkatan kerja golongan pendidikan ini.Seharusnya, kurikulum SMTA Umum sekarang mendapat proporsi ketrampilan praktis sehingga bilamana lulusan SMTA tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, paling tidak sudah memilikibekal ketrampilan yang di butuhkan untuk masuk dunia kerja.Apa yang terjadi sekarang adalah mayoritas angkatan kerja berpendidikan SMTA Umum bekerja di sektor perdagangan dan sektor informal yang produktivitasnya relative rendah.
Selain itu, di tengah membengkaknya jumlah penganggur, ternyata lowongan kerja yang belum terisi cenderung meningkat serta porsinya terhadap lowongan kerja  lelatif besar.Menurut data Sub Direktorat Informasi pasar kerja, Depnaker April 1998, dari 254.032 lowongan kerja terdaftar, terdapat 15 persen lowongan kerja yang tidak dapat terisi.Sekitar 50 persen di antaranya adalah angkatan kerja berpendidikan sarjana dan sarjana muda, sedangkan paling rendah lulusan SD dan Diploma satu (D1) sekitar 10 persen.
Tingginya proporsi lowongan kerja untuk sarjana dan sarjana muda yang belum terisi menunjukkan adanya kesenjangan antara kualitas penawaran tenaga kerja (dunia perguruan tinggi) dengan kualitas permintaan tenaga kerja (dunia usaha).Kesenjangan ini memang sudah sering di angkat ke permukaan sampai lahirnya konsep link and match.
Masalahnya, sejauh mana konsep tersebut tertuang dalam kerangka yang lebih operasional.Secara fungsional, beberapa perguruan tinggi swasta (PTS) sudah menerapkan hal ini di mana banyak praktisi bisnis menjadi dosen – dosen PTS, yang secara perlahan membawa perubahan pada kurikulum.Akan tetapi, bila tidak di imbangi dengan penjembatanan secara structural, misalnya dengan berbagai proyek kerjasama penelitian anatara dunia usaha dengan perguruan tinggi yang melibatkan dosen, mahasiswa, peneliti dan praktisi niscaya sulit untuk mempersempit gap tersebut.Permagangan mungkin salah satu alternative solusi praktis dan tepat.Hal ini di dasarkan bahwa dunia usaha terkesan tertutup terhadap mahasiswa yng dating untuk melakukan kegiatan penelitian (riset) sehingga menguatkan adanya kesenjangan tersebut.tapi ini juga belum ditangani secara serius dan terpadu.

Minggu, 10 November 2013


ARTIKEL SEJARAH

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/a/a5/Logo_SMAN1Godean.jpg
Disusun oleh:
Pratiwi Apriniya
XI IPS 2
22


SMA NEGERI 1 GODEAN SLEMAN
YOGYAKARTA
Jl. Sidokarto No.5 Godean Sleman
Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Indonesia
1.       Kerajaan Majapahit
a)   Berdirinya Kerajaan Majapahit
                        Singasari jatuh ke tangan Jayakatwang, Raden Wijaya (menantu Kertanegara) lari ke Madura. Namun, tentara Kublai Khan menyerang Singasari, Raden WEijaya berpura-berpura membantu menyerang Jayakatwang tetapi setelah Jayakatwang terbunuh Raden Wijaya berbalik menyerang Mongol dan Raden Wijaya berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit dan menobatkan dirinya dengan gelar Sri Kertarajasa Jaya wardhana.
b)   Perkembangan Politik Kerajaan Majapahit
1)      Pemerintahan Kertarajasa
      Untuk meredam kemungkinan terjadi pemberontakan, Raden Wijaya melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
·         Mengawini empat putrid Kertanegara untuk menghindari perebutan kekuasaan anatar anggota keluarga raja.
·         Memberikan kedudukan dan hadiah yang pantas kepada para pendukungnya.
     Kepemimpinan Kertarajasa yang cukup bijaksana menyebabkan kerajaan menjadi aman dan tenteram. Ia wafat pada tahun 1309 dan dimakamkan di Simping (Blitar) sebagai Syiwa dan di Antahpura (dalam kota Majapahit) sebagai Buddha.

2)      Pemerintahan Jayanegara
     Jayanegara (1309-1328) adalah raja Majapahit kedua yang naik takhta kerajaan menggantikan Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pada tahun 1309 dan memerintah sampai tahun 1328. Masa pemerintahan Jayanegara dipenuhi pemberontakan akibat kepemimpinannya kurang berwibawa dan kurang bijaksana. Pemberontakan-pemberontakan itu sebagai berikut.
·         Pemberontakan Ranggalawe pada tahun 1231. Pemberontakan ini dapat dipadamkan pada tahun 1309.
·         Pemberontakan Lembu Sora pada tahun 1311.
·         Pemberontakan Juru Demung (1313) disusul Pemberontakan Gajah Biru.
·         Pemberontakan Nambi pada tahun 1319. Nambi adalah Rakryan Patih Majapahit sendiri.
·         Pemberontakan Kuti pada tahun 1319. Pemberontakan ini adalah yang paling besar dan berbahaya. Kuti berhasil menduduki ibu kota kerajaan sehingga Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah Bedander.
     Namun, meskipun berbagai pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Jayanegara justru meninggal akibat dibunuh oleh salah seorang tabibnya yang bernama Tanca. Ia lalu dimakamkan di candi Singgapura di Kapopongan.


3)      Pemerintahan Tribhunawatunggadewi
     Oleh karena Jayanegara tidak berputra, sementara Gayatri sebagai Rajapatni telah menjadi biksuni, takhta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana (1328-1350) yang menjalankan pemerintahan dibantu suaminya, Kertawardhana. Masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi diwarnai permasalahan dalam negeri, yakni meletusnya Pemberontakan Sadeng. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada yang pada saat itu baru saja diangkat menjadi Patih Daha.

4)      Pemerintahan Hayam Wuruk
                 Tribhuwanatunggadewi terpaksa turun takhta pada tahun 1350 sebab Rajapatni Dyah Dewi Gayatri wafat. Penggantinya adalah putranya yang bernama Hayam Wuruk yang lahir pada tahun 1334.
                 Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit pada tahun 1331 dan diadakan upacara pelantikan. Dalam upacara pelantikan tersebut, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa, berisi tekadnya untuk mempersatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit. Usaha Gajah Mada untuk mewujudkan gagasan Nusantara banyak mendapat kesulitan. Di antaranya adalah Peristiwa Bubat yang memaksanya menggunakan jalan kekerasan untuk menyelesaikannya.
                 Dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa pada zaman Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan dan memiliki wilayah yang sangat luas. Luas kekuasaan Majapahit pada saat itu hampir sama dengan luas negara Republik Indonesia sekarang. 
                 Kondisi Majapahit berada di ambang kehancuran ketika Hayam Wuruk juga wafat pada tahun 1389. Sepeninggalnya, Majapahit sering dilanda perang saudara dan satu per satu daerah kekuasaan Majapahit pun melepaskan diri.

c)    Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit
     Sebelum menduduki jabatan raja, putra mahkota biasanya diberi kekuasaan sebagai raja muda (Rajakumara atau Yuwaraja). Untuk masalah-masalah keagamaan, raja dibantu oleh dewan yang disebut Dharmadyaksa.
     Para pejabat keagamaan ini dibantu oleh tujuh Dharma Upapati, yaitu Sang Panget i Tirwan, i Kandamulri, i Mangkuri, i Paratan, i Jambi, i Kandangan Rase, dan i Kandangan Atuha. Selain sebagai pejabat keagamaan, mereka juga merupakan kelompok cendekiawan.
Tiga lembaga pemerintahan tingkat atas di Majapahit sebagai berikut.
·           Sapta Prabu, merupakan sebuah dewan kerajaan. Anggota dewan ini adalah keluarga raja yang bertugas mengurusi soal keluarga raja, penggantian mahkota, dan urusan-urusan negara yang berhubungan dengan kebijaksanaan negara.
·           Dewan Menteri Besar, menerima perintah raja. Anggotanya berjumlah lima orang dan dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Dewan ini bertugas mengepalai urusan tata negara merangkap urusan angkatan perang dan kebijaksanaan.
·           Dewan Menteri Kecil, melanjutkan perintah raja. Beranggotakan tiga orang dan bertugas sebagai pelaksana kebijaksanaan raja.

d)   Kehidupan kebudayaan Kerajaan Majapahit
     Zaman Majapahit menghasilkan banyak karya sastra. Periodisasi sastra masa Majapahit dibedakan menjadi dua, yaitu sastra zaman Majapahit awal dan sastra zaman Majapahit akhir.
     Karya sastra zaman Majapahit akhir ditulis dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang (kidung) dan gancaran (prosa). Karya-karya sastra pada zaman ini adalahkitab Pararaton yang berisi tentang riwayat raja-raja Majapahit, kitab Sundayanaberisi tentang Peristiwa Bubat, kitab Surandaka menceritakan tentang Pemberontakan Sora di Lumajang, kitab Ranggalawe tentang Pemberontaan Ranggalawe dari Tuban, kitab Panji Wijayakrama berisi tentang riwayat Raden Wijaya, kitab Vsana Jawa menceritakan tentang penaklukkan Bali oleh Gajah Mada,kitab Usana Bali mengisahkan tentang kekacauan Bali akibat keganasan Maya Danawa, kitab Pamancangah, kitab Panggelaran, kitab Calon Arang, dan kitab Korawasrama.
http://msmunir.batan.go.id/sejarah_kediri/majapahit-04.jpg


2.       Kerajaan Medang Kamulan
a)      Berdirinya Kerajaan Medang Kamulan
Pada umumnya sebutan Mataram Kuno lazim dipakai untuk menyebut nama Kerajaan ini pada periode Jawa Tengah. Nama Mataram merujuk pada nama ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16.

b)      Perkembangan Politik Kerajaan Medang Kamulan
o   Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang (Karya Candi Canggal / Penganut Hindu Syiwa)
o  Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra(Membangun Candi Borobudur,sebagai penganut budha mahaya" dinasti berpindah agama dari leluhurnya yang hindu syiwa")membangun juga candi Kalasan , sebagai pengormatan leluhur").
o  Rakai Panunggalan alias Dharanindra Menaklukkan Sriwijaya bahkan sampai ke kamboja dan campa berjuluk Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
o  Rakai Warak alias Samaragrawira Ayah dari Balaputradewa raja Sriwijaya Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
o  Rakai Garung alias Samaratungga Sri Maharaja Samarottungga,
o  Rakai Pikatan suami Pramodawardhani,
o  Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala

c)      Keadaan Masyarakat  Medang Kamulan
           Di bidang ekonomi penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memangterkenal sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.
           Dibeberapa prasasti telah memberi keterangan akan adanya masyarakat yang mengenel ekonomi di wilayah kerajaan,di pedesaan pertama-tama sudah mengenal hasil bumi seperti beras, buah-buahan, sirih pinah, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian, paying keeranjang dan barang-barang anyaman , kejang kepis, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing , itik dan ayam serta telurnya juga diperjualbelikan.
           Prasasti tidak menyebutkan komoditas ekspor, dan hanya ada satu barang yang mungkin diimpor yaitu kain buatan India (wdihan buat kling). Akan tetapi, data tentang masalah ekspor-impor itu diperoleh darr berita-berita Cina. Ekspor dari pelabuhan –pelabuhan di Jawa terdiri atas hasil bumi dan hutan Pulau Jawa sendiri dan dari Pulau-pulau yang lain, terutama dari Kaliimantan dan Indonesian bagian timur. Komoditas ekspor itu anatara lain garam yang di hasilkan dipantai utara PUlau Jawa, terutama didaerah Kembang dan Tuban , kain Katun dan Kapuk, Sutra tipis dan Sutra kuning, damas, kain brokat berwarna-warni, kulit penyu, pinang, pisang raja, gula tebu, kemukus, cula badak, mutiara, belerang, gaharu, kayu sepang, kayu cendana.,cengkeh, pala, marica, dammar, kapur barus dan lain-lainnya.

images.jpg


3.       Kerajaan Samudera Pasai
a)      Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai
            Samudra pasai sendiri didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh. Sulatan Malik as-Saleh sendiri mendirikan kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13, dan menjadi raja pertama kerajaan Samudra Pasai, dan wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, pada pemerintahannya masih belum terlihat tanda-tanda kejayaan yang signifikan, namun pada pemerintahannya setidaknya kerajaan Samudra pasai merupakan kerajaan yang besar dari wilayah Aceh sendiri.

b)      Sistem Pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai
1.      Sultan Malik as-Saleh atau Meurah Silu (1270-1297 M)
2.      Sultan Muhammad Malik az-Zahir (1297-1326 M)
3.      Sultan Mahmud Malik az-Zahir (lk1346-1383 M)
4.      Sultan Zain al- Abidin Malik az-Zahir (1383-1405 M)
5.      Sultanah Narisyah (1405-1412 M)
6.      Abu Zaid Malik az- Zahir (1412-? M)
7.      Mahmud Malik az-Zahir( 1513-1524 M)

c)     Keadaan Masyakat
           Keadaan masyarakat Pasai jelas sekali, menggantungkan kehidupan lewat pelyaran dan perdagangan. Karena sebagai kerajaan aritime memungkinkan masyarakat pasai menjadi salah satu pelaku dalam perdagangan dan pelayaran. Terlebih lagi Samudra Pasai mempunyai Bandar-bandar yang bisa menjadi tempat singgah untuk ppara pedagang asing. Dan pajak yang dikenakan oleh pemerintah Samudra Pasai kepada para pedagang sesuai dengan apa yang dijuanya. Memungkinkan masyarakat mampu untuk bertahan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjiNr4t6TJWlWZFANXJfoucwbdo05UKkq-97uxDcgXTsa9os0puvGrjjNiDZRvxATTTSUoqHM_WfeVZcEe4OvEMYXPQffA40PPkeVRr-eQq7lxQL1x7pYsI6mQiU3Z4-_hQlJMRYBYlbyF/s1600/kerajaan-islam.jpg


4.       Kerajaan Singasari
a)      Berdirinya Kerajaan Singasari
           Ken Arok merupakan Anak dari Empu Endok dan Brahma. Suatu hari, Ken Arok tertarik pada Ken Dedes dan bersumpah akan merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul Ametung. Ken Arok lalu membunuh Tunggul Ametung dan memfitnah Kebo Ijo. Berkat berbagai intrik dan fitnah lainnya, Ken Arok berhasil menjadi awuku di Tumapel dan mengawini Ken Dedes. Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari dan berkuasa selama lebih kurang lima tahun, yaitu dari tahun 1222 sampai tahun 1227. Ken Arok tewas dibunuh seorang pengalasan pada tahun 1227 atas perintah Anusapati. Pembunuhan Ken Arok oleh Anusapati menimbulkan dendam putra Ken Arok dan Ken Umang, yaitu Tohjoyo. Tohjoyo naik takhta menjadi Raja Singasari, namun hanya untuk beberapa bulan. Sebabnya adalah Ranggawuni, putra Anusapati, menyerang Keraton Singasari dibantu para pengikutnya untuk membalas kematian ayahnya. Ranggawuni naik takhta menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana dan memerintah dari tahun 1248-1268. Pada tahun 1254, Wisnuwardhana mengangkat anaknya yang bernama Kertanegara menjadi raja muda (Yuwaraja).
b)      Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari
·         Tunggul Ametung
·         Ken Arok
·         Anusapati
·         Tohjoyo
·         Wisnuwardhana
c)      Keadaan Masyarakat
           Di Singasari telah berkembang pusat agama Buddha aliran Tantrayana. Hal ini terbukti dalam prasasti yang dituliskan pada lapik (alas) "Jaka Dolok" yang ada di Taman Simpang Surabaya. Lapik tersebut menyebutkan bahwa Kertanegara telah dinobatkan sebagai Jiwa atau Dhyani Buddha (Aksobhya). Masa pemerintahan Kertanegara berakhir ketika Kertanegara dibunuh oleh Jayakatwang, raja dari Kediri.
http://awidyarso65.files.wordpress.com/2009/07/java-prajnaparamita.jpg?w=200&h=314
5.       Kerajaan Tarumanegara
a)      Letak Kerajaan Tarumanegara
Berdasarkan catatan dalam berbagai prasasti, Kerajaan Tarumanegara berdiri di Jawa Barat pada akhir abad ke-5. Wilayah Tarumanegara meliputi hampir seluruh Jawa Barat, tepatnya dari sekitar Banten, Jakarta sampai Cirebon.
b)      Sumber Sejarah
·         Berita asing
·         Berita dari Prasasti
ü  Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor)
ü  Prasasti Pasir Kaleangkak
ü  Prasasti Kebon Kopi
ü  Prasasti Tugu
ü  Prasasti Pasir Awi
ü  Prasasti Muara Cianten
ü  Prasasti Cidangiang (Lebak)

http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/11/candi-majapahit.jpg